Welcome Myspace Comments

Selasa, 12 Juni 2012

RENUNGAN PAGI


Selamat pagi dunia, Aku ingin menyambut fajar ini dengan sentuhan semangat dan keihlasan dalam melangkah. Merenungi waktu-waktu yang telah berlalu sebelum menjalani aktivitas-aktivitas hari ini. Di pagi kemarin hingga malam, Aku telah mencoba memberikan yang terbaik khususnya untuk diriku sendiri dan umumnya untuk orang-orang di sekitarku.

Menjalankan yang terbaik, itulah keinginan terkuatku. Aku hanyalah seorang yang biasa yang sangat berharap keagungan-Mu untuk menjadi pribadi yang Engkau angkat derajatku menjadi mulia di dunia dan akhirat. Aku bukan terlahir dari induk Singa yang mampu melahirkan singa dengan aungannya yang menggema alam sejagad, Aku bukan terlahir dari keluarga Hiu yang mampu menunjukkan gigi tajamnya di kerajaan, Aku bukan terlahir dari induk Elang yang mampu terbebang bebas menikmati kerajaan Alam Raya, Aku bukan terlahir dari bangsawan yang mampu berdiri tegak dengan daya kemampuannya, Aku juga bukan cucu wali yang mungkin diberi langkah spesial oleh-Nya untuk menampakkan kehebatan-kehebatannya, dan Aku juga bukan dari keluarga HEBAT yang mempu menebarkan KEHEBATANNYA untuk memberikan yang terbaik.

Lantas, Apa Aku harus diam? TIDAK!

Meskipun saat ini Aku bukan seorang yang luar biasa, bukan seperti singa, hiu, elang, bangsawan, cucu wali atau keluarga HEBAT. Lantas kau yang di sana, jangan seenaknya sendiri menghinaku dengan kemasan kegemulaianmu, kemanjaanmu, kesopananmu atau pun dengan keangkuhan keilmuanmu yang sebenarnya Aku bosan dengan kesemuannya itu.
Aku ibarat semut hitam yang berjalan terus menerus, menabrak dan terus menabrak apa yang ada di depanku sebagai tanda aku mencari jalan kemana pun untuk menemukan sarang semut. Semua orang menganggap, semut itu berhati baik karena dengan kesediaannya menyapa semut-semut yang lain dengan simbol bertabrakan satu sama lain. Namun bukan hanya itu, ternyata Allah SWT memberikan jalan khusus yang lurus untuk mempermudah menuju tujuan mereka atau ke sarang semut biar tak melenceng ke mana-mana.(*Belajar Menafsiri sendiri*)

Begitu juga denganku, ibarat kata Aku telah terlempar di dunia ini tiada strong power yang mendampingiku. Tak ada istilah singa, hiu, elang, bangsawan, cucu wali atau pun dari keluarga HEBAT yang menuntunku. Hanya Allah SWT dan keluarga sederhanaku yang selalu mendorongku untuk kemudian berharap aku mampu berlari kencang bahkan mampu melewati istilah-istilah itu. Tak pernah cuil sedikit pun dalam benakku mengenai petuah dari keluarga sederhanaku,

“Nak, Suksesnya dari keluarga yang emang sudah terlahir dari keluarga sukses itu sudah biasa!!! Sudah biasa banget!!! Namun, kita nak yang sudah terlahir jadi keluarga biasa dan kemudian menjadi keluarga yang SUKSES itu yang benar-benar baru LUAR BIASA!!!”

Saat ini, sedikit banyak Aku telah menerapkan apa yang menjadi trend topic novelis muda Ahmad Fuadi yang mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam beraktivitas dan selalu bersabar untuk menjadi pribadi yang beruntung. Dengan modal itu, di usiaku yang awal 21 tahun ini. Aku berharap dan selalu berusaha ekstra untuk mampu minimal seperti mereka yang telah terlanjur terlahir berasal dari keluarga hebat.
*****
Di Surabaya ini, Aku berjuang untuk survive dan berkarya agar pribadi ini tak akan miskin dalam segalanya (miskin ilmu maupun harta). Fokus di produk Pijat cap STIWI Syar’i yang telah ku jalani 3 tahun lamanya. Alhamdulillah, saban hari aku menemui pasien per pasien untuk dipijat dari kamar satu ke kamar lain dan sangat berharap panen rezeki di sana. Tak hanya keletihan dan uang yang menjadi prioritas utama yang ku dapat, diproses itulah terselip visi besar untuk mengharumkan produkku itu. Hanya orang yang tulus menyayangiku yang mengetahui apa visi besarku itu dan target kapan akan terealisasi.

Selebaran brosur produk Pijat cap STIWI Syar’i telah menyebar di daerah sekitar kampusku, promosi via sms dan brosur dalam bentuk file pun tak ketinggalan yang telah menembus seluruh nusantara melalui jejaring sosial facebook. Ini contoh brosurnya:

Di area sekitar kampusku, berbagai tempat keramaian tak luput dari tempelan-tempelan brosur warna-warni produk Pijat cap STIWI Syar’i baik di Warkop-warkop, Warung Nasi, di persimpangan jalan, di pondok pesantren, mading Mushala, di kamar-kamar pasienku bahkan tiap orang yang lewat atau pas ketemuan selalu tak luput aku sodorkan brosur itu.

Di kampusku IAIN Sunan Ampel adalah sarangku untuk menjemput ilmu dan rezeki. Gudang ilmu dan rezeki, seabrek berkeliaran dan ku ambil satu persatu bahkan segepok. Akhir-akhir ini, orderan pijat terus dan terus berdatangan. Alhamdulillah banget, semakin banyak pasien dan pelanggan setia mungkin Allah SWT memberikan sinyal untuk memotivasiku segera meng-ada-kan Sumber Daya Manusia (SDM) dan dikembangkan dalam naungan Manajemen “Pijat cap STIWI Syar’i”. (* Amien Ya Allah*)

Ketika tak membawa motor berada di kampus dan tiba-tiba order-an berada di belakang kampus, aku seringkali menjalani hal-hal yang sedikit liar. Dahulu, kalau menjumpai peristiwa seperti ini aku selalu berbalik arah lewat depan kampus dan jalan kaki terkadang juga nebeng ama kendaraan yang lewat dengan waktu sekitar 15 menit, maklum saja karena kampus memberikan kebijakan tepat pukul 18.00 WIB s/d 06.00 WIB gerbang kampus belakang harus uda di tutup. Namun, dengan bertambahnya waktu ternyata waktu 15 menit sanggup aku ubah menjadi hanya sekitar 3 menit saja, hehe. Keren!

Thanks SEMA Fakultas Dakwah!

Ternyata aku tersadarkan setiap ada masalah pasti ada solusi, di tempat tadi ternyata ada jalan rahasia untuk bisa langsung tembus ke Gang Dosen (Gang di Belakang Kampus). Di jalan rahasia itu, aku selalu permisi untuk menjalankan aksi menyingkat waktu itu segera bertemu dengan pasien. Meloncat pagar rahasia di SEMA Fakultas Dakwah! hehehe, Itulah yang sering ku lakukan untuk menemui pasien di belakang kampus ketika aku berada di kampus. Memang sedikit liar, namun itulah yang membuatku mampu berbuat cekatan dan itu memang sudah menjadi karakterku. Dengan ketinggian sekitar 2 meter itu, aku selalu berhati-hati biar adegan mau jatuh dulu gak terulang kembali. Harus waspada dan cengkraman tangan harus kuat, ternyata berhasil. Hehe, maklum mantan atlit panjat dinding jadi mengenai cengkraman uda tak menjadi masalah buatku.

Dari banyaknya pasien, banyak pula adegan yang lucu terselip di sana yang tak terlupakan. Salah satunya tadi malam, Alkisah... hehe,

Ada pasien Mahasiswa yang bernama Agung, dia menelponku untuk minta dipijat saat aku baru saja memegang kaki pasienku. Alhamdulillah ada pasien lagi, itu yang aku ucap. Di tengah-tengah telpon tadi, terjadi deal pukul 22.00 WIB untuk aku pijat di kosnya yang katanya dekat toko buku di Gang Dosen. Saat itu, aku gak ada waktu untuk menyimpan nomor hp nya. Nomor hp nya hanya tersimpan dipanggilan masuk dan nomor itu akan hilang ketika hpku mati karena error. Perasaan gak enak pun ku rasakan! Setelah mijat pasien tadi sekitar pukul 21.30 WIB yang ketepatan mahasiswa juga, aku kebingungan lokasi tang tepat di mana kosnya. Mau nelpon ternyata uda gak kesimpen. Aku pun mendatangi ciri-ciri tempat tadi yaitu di Gang Dosen dekat Toko Buku, aku pun segera meluncur kesana dan sesampai di sana aku kebingungan mana kost yang dia huni. Kebingunganku memunculkan keberanian, di tempat tadi berjejer kost yang membuatku bingung di mana tempat kostnya.

Kebingunganku memunculkan keberanian, hehe. Betul banget! Di sana, aku berteriak lirih memanggil nama pasien tadi yang ketepatan dengan punya nama Mas Agung. Berteriak lirih sekitar belasan teriakan di area tadi tak kunjung sukses, huf. “Di mana dia ne?” ucapku menunggu penantian. Aku tak sabar, teriakan lirihku tadi aku coba tuk aku kencangkan berkali-kali di sela-sela kost. “Mas Aguung... Maaaaas Aaaaguuuuuuung...!!!” teriakan sedikit keras dan kosong tak ada respon,,, waduh jangan-jangan salah tempat kost ne.

Kebingunganku memunculkan keberanian, di sana aku malah mengetok pintu tiap kost dan menanyakan satu persatu ada gak yang namanya Mas Agung dan hasilnya nihil. Sampai-sampai aku gak paham ada kost rumah tangga dan ada ibu-ibu yang aku tanyain pertanyaan tadi dan hasilnya juga nihil, maaf ibu aku udah mengganggu aktivitas sampeyan. Tadi malam aku lumayan terlalu berani mengetok-ngetok pintu tiap kost menanyakan yang namanya mas Agung,,, Akhirnya dengan keberanian, kenekatan dan kerja keras, ketemu juga dia, hahaha. Alhamdulillah,,, di sana menjalankan aksi mijat dan sambil sharing tentang bussines.
Setelah mijat, aku menuju ke warkop sambil mencari bungkusan nasi. Setelah makan, aku minta izin menempelkan brosur Pijat cap STIWI Syar’i di sela-sela temboknya dan ternyata sekitar pukul 00.00 WIB deal katanya yang punya Warkop tadi minta pijat, hehe. Kemudian, aku berjalan ke barat menuju perpustakaan kampus bukan mau pinjam buku! Namun, silaturrahim dengan pasien-pasienku dan numpang bermalam karena di kost dipake temen adek tuk persiapan ujian SNMPTN. Di perpustakaan itu aku sering bermalam, aku sangat bersyukur mempunyai kenalan yang baik hati bak keluarga sendiri. Alhamdulillah, dengan kondisi yang lumayan capek habis full orderan kemarin-kemarin malam dan tadi malam lumayan dapat 45 ribu (2 pasien) semoga pendapatan di atas 100 ribu kayak kemarin bisa terulang kembali bahkan lebih. (* :: Amien :: *)
*****
Terima kasih Allah, Engkau mampu memberikan kemampuan untukku yang selalu terus berkarya dan hidup mandiri. Ya Allah, wujudkanlah impian muliaku ini yakni mampu memberi makan orang-orang di sekitarku dengan jalan memberikan lapangan kerja yang layak bagi mereka (Young Success Entrepreneur). (**__Amien lagi___**) Semoga aku selalu punya bekal Iman, Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan JUJUR untuk menjadi pribadi yang HEBAT...!!!

Catatan Di Warkop

Dini hari Senin 11 Juni 2012 yang indah tepat pukul 01:41 WIB,
Aku mulai menulis menapaki masa lalu tuk ku tuangkan dalam ketikan keyboard,
Jari jemari yang letih sehabis memijat 5 pasien sehari sangat terasa,
Terlebih Pikiranku yang terus terjejali sang Mantan, terus ku usahakan dan terus berusaha,,,
Untuk melupakan kemanjaan palsunya padaku dulu,
Aku ingin hidup lebih baik,
Menatap hidupku penuh dengan keJUJURan, kerja keras, dan kerja cerdas,
Buat Sang Mantan terima kasih kemanjaan palsumu dulu,
Senyum palsumu dulu,
Syukur banget aku tak terlena,
Aku mencoba belajar,
Belajar dari kepalsuanmu dulu,
Kepalsuan yang mungkin tu memang pilihan yang amat terbaik buatmu,
Belajar dan belajar tuk menjadi pribadi yang jujur,

Badan amat letih sehabis mijat,
Aku jalan kaki berkeliling menyusuri jalanan Wonocolo,
Berharap bisa berjumpa dengan tukang nasi goreng atau semacamnya,
Warung uda tutup dan Nasi Goreng gerobak uda Habis,
Kemana-mana sudah habis,
Perutku yang lapar terus menyusuri jalanan Wonocolo dengan pundak yang terasa berat,
Perjalananku ditemani penglihatan yang tak sepenuhnya fit,
Capek, kaki ini seakan menyeret jalanan aspal,
Ku berhenti seraya menghitung pendapatan pijatku hari ini,
Di pojok perempatan jalan,
Aku duduk seakan terkapar kecapekan dengan membolak-balikkan uang hasil pijatku,
Dengan pendapatan 110 ribu sehari itu,
Seakan terjawab sudah untuk melepaskan rasa letihku,

Aku melanjutkan berkeliling mencari ganjelan perutku yang asyik bergoyang karena lapar,
Sekitar 30 menit lamanya, aku tak kunjung menemukan sekumpulan karbohidrat,
Di manakah kamu? Dimana?
Aku coba berbalik arah dan terus berjalan, eh tiba-tiba menemukan nasi Padang yang mau tutup,
Aku berharap semoga ada,
Ingin banget rasanya mengulang ketiga kalinya makan nasi padang yang makyus,
Pertama dulu ama temenku,
Kedua ama dosen Pak Cik,
Dulu sempat aku bertanya pada kasir,
Ternyata makan total ama beliau menghabiskan 40 ribu,hehe
Semoga ketiga kalinya aku mendapatkan kenikmatan pula,
Eh ternyata,,
Lauknya habis,,, tinggal nasinya doang, haha*Lumb beruntung,
Ya sudah... Bingung.
Aku mencoba mencari di warung Nasi Goreng di sebelahnya dan ternyata habis juga, huf.
Eh, Sekalian aku mampir ke warkop pesan mie rebus dan...
Aku kombinasikan dengan nasi dari nasi Padang tadi,
Haha, terima kasih Allah... Dengan rasa kenyang yang ku berikan ini,
Aku mampu menulis tulisan yang gak jelas ini, hehe.
Terima kasih kepada siapa pun yang menyayangiku dengan tulus mau pun dengan dusta.
Terima kasih semuanya,

Jumat, 01 Juni 2012

.:: Indah ::. (Catatan si Bocah Freedom)


Indah rasanya, ketika diri ini terbebas dari belenggu yang mengikatku
Indah rasanya, ketika diri ini mampu berlari bebas
Indah rasanya, pikiran ini sudah tak memikirkan hal-hal yang tak penting!
Indah rasanya, bayangan kedustaan udah ku lempar jauh ke neraka
Indah rasanya, hari ini Aku telah tersadar sesadar-sadarnya
Indah rasanya, dulu Aku telah belajar kebodohan-kebodohan semu
Indah rasanya, Aku mulai belajar tak bersahabat dengan kebodohan-kebodohan semu itu
Indah rasanya, aku mampu bisa tertawa melihat kelucuan dunia ini
Indah rasanya, tanganku bisa mengetik goresan-goresan sejarah
Indah rasanya, masa kelamku telah terbuang di tong sampah, haha
Indah rasanya, tak secuil ingatan pahitku dulu bergelantongan di pikiranku
Indah rasanya, musik-musik semangat dari Bondan Prakoso beraksi
Indah rasanya, film-film semangat terus menyemangatiku
Indah rasanya, semangat-semangat tulus tanpa dusta menghampiri kehidupanku
Indah rasanya, sekarang Aku puas karena sangat paham merasa dibohongi
Indah rasanya, Aku mampu berucap dunia ini memang indah
Indah rasanya, dunia ini yang indah masih terselip keindahan meski ada kebejatan di seberang sana
Indah rasanya, suara dustamu telah ku bakar dalam-dalam di api Matahari-Nya
Indah rasanya, si bocah Freedom ini bisa benar-benar bebas
Indah rasanya, aku bisa terucam thanks Allah kau telah menyadarkanku
Indah rasanya, aku bisa belajar tuk merawat kejujuranku
Indah rasanya, memiliki orangtua yang sangat mengajarkan kejujuran dan kerja keras
Indah rasanya, memiliki adik-adik dan keluarga yang menyayangiku tanpa DUSTA
Indah rasanya, dengan membenci kedustaanmu dengan dalih untuk melupakan semuanya
Indah rasanya, sangat indah.
Semangat si bocah Freedom...!!!

Jumat, 18 Mei 2012

Bersahabat dengan ANGIN


Tak bosen-bosen ya yang namanya Ilham ne. Kalau pas pulang kampung ke Mojokerto selalu pakai acara nebeng segala ke kendaraan orang alias mbolank gratis. Entah pick up atau truck yang selalu menjadi makanan empukku. Ini adalah kebiasaanku ketika lagi pulang kampung dan tak membawa motor yang sedang parkir di kost. Tak ada teman untuk aku ajak mengelilingi sepanjang jalan Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto layaknya dulu saat SMA bersama Geng The Ninja Of Bolank yang kini telah terpencar di berbagai kota di Indonesia. 
Maklum, semua sudah dewasa mencari kehidupan sendiri untuk mencari jati diri yang hebat, salam lestari kepada mereka! Ada yang menjemput Ilmu dan rezeki masih di kota Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, sampai-sampai ada yang di Kota Metropolis Jakarta. Mereka sahabat terbaikku yang mengajarkan kesederhanaan yang sama sekali tak terbalut KEDUSTAAN.
Yups, perjalanan pulang kampung sangat mengasikkan ketika aku telah menaiki pick up yang berwarna hitam tepat berada di dekat kost ku (pertigaan rel kereta api Jalan A. Yani dekat Taman Pelangi Surabaya). Sebelum menaiki pick up, aku telah menunggu sekitar 30 menit lamanya menanti kedatangan pick up atau truck yang tak kunjung-kunjung datang sambil memandangi langit-langitnya Allah yang berhias awan indah dan layang-layang warga Surabaya. Di jalan raya saat itu, banyak berjubel mobil-mobil mewah yang seakan selalu menyapaku dengan manja saat aku sedang berdiri tegak menanti-nanti kendaraan pick up atau truck.
Dengan tubuh tegak di tepi jalan pakai slayer biru menutupi setengan wajah beserta tas yang penuh dengan barang bawaan. Aku tetap bersabar menanti, memang aku tak bosen menjalani rutinitasku yang unik ini meskipun uang di dompet sebenarnya masih ada. Saat penantianku telah terjawab, aku sesegera mungkin menanyakan ke pak supir,
“Mau arah ke mana pak Supir?”
“Sidoarjo mas,”
“Oh ya pak,,, nebeng ya?”
“Oke silahkan,”
Ekspresi semangatku terpancar dalam suasana ashar yang masih terlihat saat aku telah menaiki bak pick up. Wou keren berkali-kali aku menaiki kendaraan yang serupa, kenikmatan yang serupa pun selalu aku dapatkan penuh dengan keindahan dan tantangan. Terutama kerinduanku melewati angin yang berhembus kencang saat pick up melaju sekitar 80 km/jam. Rambutku seakan berterbangan bebas kesana-kemari menikmati hembusan angin yang segar dan sejuk. Jujur, masalah-masalah yang ada seakan terhempas dan terbawa oleh angin. Terima kasih Allah yang telah mengirim angin untukku dan mendepak masalah-masalah yang ada di dalam kepalaku ini. Saat tepat di depan City Of Tomorrow, aku mencoba memperjelas arah tujuan mana pak Supir akan melaju,,,
“Pak, Sidoarjo mana?”
“Gedangan mas,”
“Wou! Turun di Bunderan Waru ya pak,,, Saya mau ke Mojokerto.”
“Oke mas,”
Akhirnya, aku turun menyusuri keramaian kendaraan yang berlalu-lalang. Diriku yang sendirian ini berkedip-kedip sendirian pula di persimpangan Bunderan Waru sambil memandang Nomor Polisi Kendaraan yang S (Kode buat Mojokerto dan sekitarnya) atau AG (Kode buat Kediri dan sekitarnya). Uh, penantian di sini lama juga. Namun, ini kenikmatan yang sangat aku rasakan yakni memandang keramaian kota dan merasakan perasaan yang mungkin tak pernah dirasakan ama orang lain. Ketika ada kendaraan yang sesuai pun laju kecepatan kendaraan sangat cepat. Jikalau, aku menungu dan terus menunggu bisa-bisa aku sampai rumah besok subuh, uh parah! Aku pun memutuskan untuk berjalan menyusuri kendaraan yang berukuran kecil hingga besar untuk menanti kendaraan yang benar-benar mau dan rela aku tumpangi. Hehe, perjalanan kaki sekitar 1 km yang melelahkan sampai lampu merah Medaeng ternyata tak terasa uda sampai dan menemukan truck yang bernomor polisi S. Tak panjang lebar, aku pun bertanya:
“Arah Mojokerto daerah Brangkal pak?”
“Ya mas,,,”
“Bareng ya pak?”
“Oke silahkan!”
“Sip! Wou!” aku sangat kaget ternyata di dalam bak truck tadi ada 3 orang yang lagi tertidur pulas dengan wajah yang tertutup sarung. Hampir aja, aku tadi pas menaiki truck dan mau langsung melompat,,hehehe. Apa jadinya tadi kalau aku pas lompat tiba-tiba pendaratannya ke perut orang yang tertidur pulas tadi,,hehe. Bakal ada perang dunia ke-3 ne. Syukur ternyata aku mampu sigap.
Di bak truck itulah, aku menikmati angin kembali dengan kecepatan yang lebih hebat dari sebelumnya sekitar 100 km/jam. Wou keren! Terasa surga banget! Ini alasan mengapa aku tak demen naik bus, atau kereta. Apalagi naik pesawat,,, hehe bercanda (Mojokerto kan gak ada landasan udaranya). Kalau naik kendaraan itu gak memuat seni banget githu, ya itu untuk sementara aja. Suatu saat nanti, aku berjajni gak gini lagi,,, kan uda punya mobil Marcedes, hehe Amien. Beberapa menit kemudian, ada 2 orang yang bertopi membawa barang bawaan menyusulku menaiki bak truck. Dengan wajah yang sedikit garam aku pun berani menanyakan apa yang aku ingin tanyakan dan di sana terjadi perbincang yang serius,,,
“Pulang kerja ya pak?” tanyaku,
“Ya mas, habis jualan manisan mangga dan kedondong di jalan Demak.”
“Ow,,, kirain kerja apa tadi,,, berangkat jam berapa pak?”
“Jam 9 sampai sore gini mas,,”
“Berapa lama pak jualan?”
“Lama mas,”
“Berapa tahun pak?”
“25 tahun mas,,,”
“Wou keren pak, lama banget ya ternyata.”
“Hehe, iya mas dari perjaka sampai perjoko,,hehe. Lumayan, bisa menghidupi satu istri dan 2 anak.” Ucapnya yang mau turun di daerah Krian.
Aku sangat bangga kepada mereka yang memiliki semangat baja demi meraup rupiah sekitar 50 ribu per hari. Semoga, dengan semangatnya mampu menjadikan kehidupan keluarganya semakin indah. Begitu juga kita, yang selalu semangat menatap ke depan. Semoga Allah meridhai langkah kita,,, Amien.
Itulah pengalaman bolangku yang selalu menaiki kendaraan orang untuk mencapai tujuan mau kemana aku ini akan berhenti. Gak ada maksud lain, yang aku inginkan hanyalah kebebasan bergaul dengan hembusan angin-Nya yang mampu membuatku tegar dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan tantangan. Terima kasih angin-Mu, terima kasih Allah. Akan ku sambut kehidupan ini bagaikan geraknya angin yang tak terbelenggu oleh apa pun.

Sabtu, 12 Mei 2012

AKU INGIN JADI MOTIVATOR BISNIS

Melihat permasalahan yang sangat fundamental dan sering muncul dalam masyarakat yang sangat mematikan adalah kebodohan dan kemiskinan. Aku sebagai mahasiswa yang berasal dari Mojokerto dan kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya sangat terpanggil untuk mematikan virus kehidupan itu, ya tepatnya meminimalisirlah. Tujuan utama atau PR bauatku adalah ingin membuat mereka mampu tersenyum bangga menatap masa depan dan menghidupkan nyawa impiannya yang telah lama meninggal tertelan keadaan yang tak memihaknya. Aku ingin apa yang aku ucapkan mampu menggugah semangat mereka untuk mengkreasikan karyanya. Muhammad SAW, Dahlan Iskan, Mario teguh, Tung Desum Waringin, Ipho Santosa, orangtuaku (hehehe), dan puluhan motivator-motivator hebat lainnya adalah sesosok yang sangat menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang telah mati. Mereka adalah orang-orang hebat yang mampu menebar aroma surga di sekitar mereka dengan berbagai bidang-bidang keilmuan yang mereka miliki.

 
(MOH. ILHAM & DAHLAN ISKAN (Di Jatim Expo Surabaya dalam acara KAJIAN AKBAR KEBANGKITAN EKONOMI INDONESIA pada Sabtu, 21 Mei 2011): Menteri BUMN RI, Pengarang Buku Ganti Hati, Pelajaran dari Tiongkok, Dua Tangis dan Ribuan Tawa, dan banyak lagi yang lainnya) 




(MOH. ILHAM & IMAN SUPRIYONO (2012) Saat Bedah Buku di IAIN Sunan Ampel Surabaya (Jurusan Manajemen Dakwah): Pengarang Buku Guru Goblok Ketemu Murid Goblok, Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia dan banyak lagi yang lainnya)


AKU INGIN JADI MOTIVATOR BISNIS, ya mungkin ini terlihat keinginan sedikit nyeleneh yang gak ingin seperti keinginan-keinginan banyak orang yang mengidolakan Mr. PNS atao Mrs. PNS (Pegawai Negeri Sipil). Alasannya: Pertama, untuk menguatkan usaha bisnis yang saat ini aku jalani karena sebelum sebagai menjadi Motivator Bisnis dipastikan harus memiliki usaha bisnis yang mampu memberikan efek positif bagi orang di sekitarku dan itulah sebagai cambuk semangatku untuk sebelum memulai sebagai Motivator Bisnis. Kedua, melatih mental dan gaya komunikasi yang mampu menyihir audience untuk menjadi pribadi yang memiliki kemampuan di atas 1.000 %, oleh karena itu mulai sekarang aku harus sering melatih menyampaikan pendapat di hadapan orang banyak secara berkualitas dan berani dipertanggungjawabkan agar menjadi kebiasaan yang benar-benar telah terbiasa serta sering-sering mengikuti seminar atau pelatihan. Ketiga, aku ingin sharing antar pebisnis minimal tingkat regional Indonesia dan maksimal go international. Keempat, memiliki keinginan seperti itu tujuannya untuk memiliki pengetahuan yang luas dan menembus cakrawala pemikiran-pemikiran orang pada umumnya. Kelima,  ingin menebarkan kebaikan lewat untaian kata-kata alias komunikasi entrepreneurship mulai dari pemuda sampai yang ABG tua. Keenam, ketujuh, kedelapan sampai keseribu gak bisa diungkapkan dalam kata-kata deh mengapa AKU INGIN JADI MOTIVATOR BISNIS, yang jelas itu adalah IMPIANKU...!!! Minta do’anya ya gan,,, Al Baqarah... Oh Sory,,, Al Fatihah... Amien.

Tengok juga di
www.pijatcapstiwi.blogspot.com

HTML

Powered By Blogger

SALJU INDAH