Welcome Myspace Comments

Sabtu, 17 Desember 2011

Sakit dan Rezekiku diguyur hujan,TETAP SENYUM!


# Catatan 6 Desember 2011 #

Sakit dan Rezekiku diguyur hujan, TETAP SENYUM!

Pagi ini sekitar pukul 02.05 WIB, aku merasa sangaaaaaaaaaaaat capek banget... Ya capek banget, pengen rasanya segar kembali seperti sedia kala dan mampu membuat goresan tulisan yang sebanyak-banyaknya, sehingga mampu mengepakkan sayap imajinasiku tanpa batas, dan mampu membuat pikiran ini semakin fresh dan sekiranya berharap mampu menjadi inspirasi bagi siapa pun. SEHAT, SEHAT, SEHAT...!!!

Itu yang terus Aku ucap dalam jiwa dan ragaku ini, tujuannya biar menjadi SEHAT beneran... Akhirnya, mindset seperti itu ternyata manjur juga aku terapkan dan Aku putuskan untuk beristirahat alias tidur dulu agar ntar lebih fresh lagi. Semoga ntar bisa fresh lagi dan mampu memegang jasad dari air yang dingin di kamar mandi itu, itu yang aku inginkan. Rasanya seakan kesetrum bila kulit ini menyentuhnya, semoga mampu... Amien... Tidur dulu ya! Di lanjutkan ntar....zzzzZZZZ (2:12 WIB).

*********

Mata ini terbangun dari singgagsana mimpi. Namun, jiwa ini seakan susah sekali untuk dibangunkan, letih itulah yang Aku rasakan. Adikku selalu berusaha untuk membangunkan, Aku pun tak menggubris sama sekali. Rutinitas seperti biasa, seharusnya sebelum jam 06.00 WIB, Aku dan adikku seharusnya sudah siap di lokasi untuk mencari nafkah dan siap atas segala sesuatu yang telah dipersiapkan, seperti merapikan meja, kursi, gula, gelas, tenda, beli es batu, produk sari kedelai, bersih-bersih lokasi, dan banyak lagi yang lain. Namun, hari ini aku tak mampu melakukan rutinitasku itu seperti biasa, letih dan demam disekujur tubuh itulah yang Aku rasakan dan Aku jadikan alasan mengapa waktuku menjadi molor. Pukul menunjukkan 06.15 WIB, Aku pun masih tergeletak di atas kasur yang masih lengkap dengan bantal, guling dan selimut. Di dalam kos yang sendirian karena Adikku telah meminta izin berangkat ke kampus sendirian dengan berjalan kaki pula, selain tujuan utama ada kelas intensif bahasa Inggris juga tujuannya untuk merapikan lokasi untuk jualan sari kedelai. Tak tega rasanya dan membayangkan adek cewekku mengangkat meja, bersih-bersih, dan berpagai kaegiatan untuk merapikan lokasi jualan dengan sendirian. Akhirnya, sekitar pukul 06.22 WIB adikku menyelesaikan tugasnya, semuanya telah beres keculai mengambil tenda putih sebagai pengayom jualan dari teriknya matahari hingga sebagai pelindung dari reruntuhan-reruntuhan air-air surga yang berhasil runtuh di permukaan kulit bumi yang telah ku pijak.

Pengorbanan! Itulah yang terkadang Aku dan Adik jalani selama di Surabaya, sudah jelas... Adik masuk dalam intensif bahasa inggris seharusnya pukul 06.00 WIB. Namun, inilah kenyataannya mengorbankan waktu kuliah untuk mempersiapkan segala yang perlu dipersiapkan untuk berjualan. “Biarin, toh kadang-kadang dosennya juga sering telat! Ya kadang-kadang juga disiplin sih! Biarin!” itu yang diucapkan adikku padaku saat aku tanya mengenai keseringan telat masuk kuliah.

Kembali ke dalam kosku, sekitar pukul 06.30 WIB, aku pun tetap menderita dengan rasa sakit yang sebenarnya tak aku inginkan datang dalam jiwa dan ragaku. Sahabat seperjuanganku sewaktu meraih dalam mimpi terus-menerus menempel dengan setianya, kasur, bantal, guling, dan selimut selalu bersedia untuk menemaniku dalam rasa sakit yang mendalam ini.

Maindset untuk SEHAT, SEHAT, dan SEHAT tak mampu mengubahku menjadi SEHAT, malah tambah parah. Tepat dipukul 06.45 WIB, aku pun mencoba untuk menantang jasmani yang sedang payah ini untuk memberontak berusaha menjadi jasmani yang kuat dan liar. With tehe power of do’a dan kekuatan diri aku pun segera membuang jauh-jauh dan mengambil lagi sampai rapi sahabat-sahabat mimpiku tadi untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala. Ku beranikan pula, aku menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu... Sholat subuh hampir jam 07.00 WIB itulah yang aku lakukan, jujur Aku sangat merasakan kesakitan, Subuh kesiangan? kalau gak salah dulu pernah mengikuti semacam pengajian kalau kau terbangun dari tidur kesiangan semisal jam 08.00 WIB dan belum shalat subuh, maka shalatlah selagi alasan-alasan kau sebelum tertidur itu untuk kebaikan bukan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Sekujur kulitku sekan kesakitan merasakan kesegaran air wudhu, itulah yang memang sering aku rasakan tatkala rasa sakit menghadang. Shalat subuh pun Aku jalankan dan tak lupa sekaligus shalat dhuha 4 rakaat. Aku meminta ampun pada-Nya untuk selalu ingin dijadikan sebagai makhluk-Nya yang beruntung dari segala apa pun bentuknya, semisal beruntung mendapatkan shalat berjamaah dan disiplin, atau pun mampu beruntung dalam ruang lingkup duniawi. Aku menjalani shalat tadi sangat merasakan kesakitan dalam segala gerak gerik shalat, terasa sakit semua (meriang. red.), biarlah mungkin ini yang namanya hidup yang harus bersemangat dalam menjalani alur kehidupan.

Ku tekadkan jiwa dan raga ini, untuk memulai rutinitas seperti biasanya. Mengambil produk sari kedelai di rumah bos, di perjalanan juga aku merasakan kesakitan yang luar biasa akan sayatan-sayatan angin yang menyayat di sekujur kulitku. Seakan semakin menderita hidupku ini, sakit banget. Setelah mengambil sari kedelai, aku juga mengiring kepada para pelanggan setiaku dengan teriakan “Sari kedelai... Sari kedelai hangat... Sari kedelai hangat seribu...”. sakit rasanya saat teriakanku tadi sembari dihadang dengan sayatan-syatan angin lagi, wow mantaaaaap banget rasa sakitku ini. Sesi keliling menjajakan barang dagangan ke para pelanggan dan pembeli dadakan telah usai, dan segera aku menuju ke lokasi jualan yang telah dipersiapkan adikku sebelumnya yakni di depan kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Di sana telah disambut teman kelasku yakni Hida yang telah bersedia untuk membantuku meski dengan upah antara Rp. 15.000,- hingga Rp. 20.000,- dari pukul 07.00 hingga sekitar pukul 15.00 WIB, dengan upah seperti itu dan juga ditambah bunus sarapan, semangatnya sangat terlihat dalam melayani pembeli atau pun mempersiapkan sesuatu yang belum siap dalam lokasi tersebut semisal tenda, ia langsung mengajakku mengambil tenda yeng berada tepat di belakang pos satpam kampus, ya memang barang daganganku telah ku letakkan di tempat tersebut. Alhamdulillah, satpam kampus telah kenal akrab denganku sehingga segala peralatan jualan aku letakkan di tempat itu, aku pun harus menjaga amanah atau kepercayaanku ini agar sesuatu yang tidak aku inginkan dapat terjadi kelak. Proses jualan pun mulai dapat beroperasi, menanti kedatangan pembeli sambil bercanda gurau dengan temenku tadi dan tak terasa pukul 08.00 WIB pun telah menyapaku, adikku datang dari mata kuliat intensif bahasa inggris dan...

“Mas, istirahat ja di kos.” Ucap adikku.

Tak panjang lebar, setelah mendiskusikan mengenai ini dan akhirnya aku putuskan untuk istirahat sebentar di kos untuk menemani sahabat-sahabat mimpiku tadi. Lokasi jualan pun, di jaga adik dan temenku tadi. Aku pun diantar naik motor menuju ke kos dengan berharap setelah istirahat mampu mempunyai ketegaran seperti sedia kala. Ketenangan dalam kos sangat terasa, suasana yang cocok untuk dijadikan tempat istirahat. Aku pun istirahat sambil memainkan jempolku untuk smsan, tak lama kemudian mataku pun loyo tertidur dalam suasana yang hening. zzzZZZZZ.

Tepat pukul 14.22 WIB, aku pun terbangun dan segera mengambil air wudhu untuk shalat dhuhur sendirian di kos, kesendirian dalam kos sangat terasa yang hanya ditemani rasa sakit yang agak mendingan berkurang. Tak beberapa lama kemudian, nada dering hp buntutku bunyi... dan dengan sesegera itu aku pun membacanya. “Mas, adek udah di gang mas.” Lewat pesan singkat itu, aku pun menjemput bidadari hidupku yang sengaja untuk menjenguk diriku yang sedang terkapar ringan. Meski sebelumnya, aku telah melarang untuk tidak menjenguk, si dia pun tetap melanjutkan keinginannya untuk menjengukku. Aku pun, agak sedikit gak enak sama si dia dan merasa senang juga saat saat rasa sakitku ini ditemani dengan si dia yang manis. Terima kasih banyak... Sekitar 1 jam lebih, aku dan si dia bercanda gurau dalam kos yang dalam kondisi terbuka pintunya agar tidak adanya fitnah, bercanda gurau ditemani laptop. Senang bener hati ini, bahagia bener jiwa dan ragaku ini menatap senyuman ikhlas bersarang di wajahnya, sekali lagi terima kasih ku ucapkan. Dalam kondisi yang masih hujan, kita berdua pun terjebak dalam kos, niat untuk ke kampus bareng-bareng pun sedikit tertunda. Tak beberapa lama kemudian, rintik-rintik hujan telah berhenti dengan sendirnya.

Hujan telah tiada, aku dan si dia pun berjalan bareng menuju kampus. Namun, si dia berubah pikiran untuk menuju bemo dan memutuskan untuk pulang. Akhirnya, aku pun sendirian lagi untuk menuju ke depan kampus menjenguk jualan sari kedelai. Temenku Hida akhirnya pulang sesuai dengan perjanjian awal yakni sekitar pukul 15.00 WIB telah pulang untuk bekerja, sekarang hanya aku dan adik yang menjaga stand sari kedelai ini hingga larut malam sekitar isya’. Aku berdo’a pada Allah, Ya Allah berilah hambamu ini kesabaran dan keberuntungan dalam menjalani hidup seperti ini, hidup sebagai manusia jalanan. Ya manusia jalanan, manusia yang berharap nafkah dari jalanan dan manusia yang bergelut dengan jalanan.

Tak kusadari bahwa, aku dan adik adalah manusia jalanan yang termuda. Inilah perjuangan hidup untuk mencari nafkah dari pagi hingga malam, gak terbayang ternyata perjuangan hidup seperti ini telah dijalani juga oleh manusia-manusia jalanan lainnya yang lebih dewasa dan bahkan berkeluarga. Perjuangan ku dan adik tersayangku ternyata telah berasa dalam kompetisi jalanan, yang sebanding dengan mereka yang telah dewasa. Memang gak kebayang, pemuda seperti kita menjalani aktivitas seperti ini. Panas yang menyengat bahkan terkadang menggigil di saat air surgawinya terlah terjatuh dari singgasananya hingga turun di bumi. Musim hujan menjadikan surga para petani yang mendapatkan kemudahan dalam pengirigasian, ini tidak bagi penjual sepertiku yang menjajakan Es sari kedelai. Sepiiiiiii.... Sepiiiiiiiiiiiiiii bangeeeeet. Tak hanya aku dan adek yang meraskan semua ini, penjual es di sebelahku juga merasakan hal yang serupa, Es Cincau, Es Sari Tebu, Es Marimas dkk, Es legen, dll. Hanya bermodal sabar dan telaten adalah modal yang mampu bertahan untuk mendapatkan nafkah, yang jelas Aku dan adikku tak berhenti untuk membuat gebrakan agar ramainya pembeli sewaktu panasnya matahari yang sangat terik sama dengan intensitasnya saat musim penghujan. Semoga Allah mampu mempercepat gebrakan-gebrakan yang akan kami lakukan, Amiennn...

Aku dan adikku basah kuyup terkena air hujan, dan bergegas merapikan perkakas jualan dan segera untuk setor kerumah bos. Seeeeeeeeepiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii banget itulah yang aku dan adik rasakan. Meski demikian, kami tetap bersabar, kerja keras, kerja cerdas, pantang menyerah dan berrrrrrrrrrrrsemangat untuk menjadi pemuda yang menghasilkan suatu karya yang spektakuler ke depannya. Ya Allah, kami berharap keajaiban-keajaiban-Mu mampu bersemayam dalam kehidupan kami, agar kedua orang tua tercinta, guru-guruku, sahabat-sahabatku, bidadariku, tetangga-tetanggaku, dan semua orang-orang yang kenal maupun tidak mampu tersenyum dengan bangga melihat realisasi mengenai keajaiban-keajaiban yang Engkau berikan kepada kami. Terima kasih ya Allah, engkau mampu memberikan kesabaran yang luar biasa ini meski hujan-hujan yang amat dingin ini menguyur habis-habisan. Terima kasih ya Allah... Meski untung yang Aku peroleh hari ini sangat sedikit, kami sangat bersyukur dan beharap secepatnya Aku mampu mendapatkan untung perhari minimal netto 1 juta rupiah dengan kapasitas waktu dan tenaga yang dikeluarkan juga gak terlalu ngoyoh! Amien!

Akhirnya, aku tertidur kembali dengan kondisi yang super letih, capek bin remek!

Semangat pemuda! Semangat SUKSES!!!

"AKU INGIN KAYA!!!"

"AKU INGIN TERSENYUM BAHAGIA..."

KENANGAN TERBURUK!


Tepatnya pada Kamis, 08 Desember 2011. Mata elangku mampu menerkam coretan-coretan tanganku yang telah lama tersimpan oleh dinginnya waktu yakni sekitar ½ tahun yang lalu, inilah coretanku:

************************

Memang suram hidupku ini, hidup yang aku rasakan tak memberiku izin untuk merasakan kebahagiaan. Suatu kebahagiaan yang sejatinya mampu meningkatkan semangat dalam meniti setiap karya kreatifnya. Sehingga karya kreatif tersebut kelak mampu menciptakan sebuah kenangan terindah bagi setiap manusia yang memanfaatkan. Namun, kenyataan hidup telah menampakkan wajahnya padaku bahwa kesuraman hidupku ini tak mampu menciptakan karya kreatifku yang kedepannya menjunjung tinggi derajat hidupku sendiri.

Selama ini, tingkatan derajatku semakin lama direndahkan bahkan tak ada harganya. Aku kini sedikit mampu merasakan aura-aura tajam panasnya percikan api neraka di dunia. Setiap manusia tak menganggapku sebagai manusia yang tak memiliki derajat. Saat itulah aku merasakan panasnya percikan api neraka tersebut. Aku sangat sadar sesadar-sadarnya bahwa hidupku ini sangatlah jauh dari dunia gemerlap kesuksesan akan masa depan, kesuksesan yang ku inginkan tak mendapat respon dari manusia di sekelilingku.

Aku sangat berharap manusia di sekelilingku mampu membantu mempermudah langkah demi langkah tiap langkah emasku, tapi semuanya hanyalah sebuah harapan sampah yang tak mampu membuatku berbangga diri. Memang aku tak pernah hidup dengan membanggakan diriku sendiri. Apa yang dapat membuatku bangga? Jikalau semua orang tak merespon bahkan mencekal setiap karya kretifku yang akan ku jalani. Pernah ku coba tak ambil pusing atas duri-duri tersebut. Aku terus berkarya untuk menatap masa depan. Sampai berjalan lama, aku hampir putus asa atas apa yang aku jalani dengan optimis dan tak menghiraukan orang di sekitar yang sirik denganku, tetap saja karya-karyaku tak berjalan mulus sesuai dengan impian.

Aku mencoba merenung dan bertapa di tengah teriknya matahari sambil memandangi pantai indah yang tak pernah ku rasakan keindahan sebelumnya. Di pertama kaliku didaerah pantai sana aku mencoba meditasi dengan semilir angin laut yang terhempas akan keindahan. Aku tak sempat merasakan keindahan pemandangan alam pantai atau pun pemandangan kemolekan kaum hawa yang berjemur dengan kain yang amat minim, persetan dengan mereka semua yang menyebarkan virus pemikiran yang jorok, tentu semua itu kembali pada sanubari manusia yang memandangnya yang jelas mereka memberikan peluang yang mulus untuk terciptnya semua itu.

Itulah hidup yang intinya hanya tarik-menarik, dipengaruhi atau mempengaruhi, Terserahlah mereka berkarya! Di kondisi yang indah itu, aku memang tak sempat memanfaatkan dengan bagus karena pikiaranku hanya berkonsentrasi pada mengapa kehidupanku seperti ini? Dengan berkonsentrasi itulah, aku mampu menemukan atas jawaban hidup yang selama ini membelengguku. Meditasi yang aku lakukan dengan berjalannya waktu tak sadar adzan ashar membangunkanku untuk menghadap-Nya, segera aku menuju ke tepi pantai untuk mengambil air wudhu. Proses penyucian aku jalani dengan sempurna kecuali berkumur karena air laut tersebut sangat terasa asin. Setelah itu, aku bersegera untuk shalat di tepi pantai di bawah pohon kelapa dengan sajadah jaket yang telah ku kenakan. Aku tak ambil pusing atas semua orang yang memandangiku, aku tak menuju mushola atau masjid karena di sana tak ada fasilitas yang menyediakan, waktu ashar saja aku paham karena bayangan ku saat duduk di pasir pantai tadi lebih panjang dari yang aslinya.

Setelah shalat ashar, pikiranku semakin kabur atas suasana angin yang sangat kencang dan ditambah pengunjung pantai yang semakin membludak karena di sana akan diadakan konser musik di tepi pantai jaraknya hanya sekitar 200 meter dari tempatku. Aku tak menghiraukan mereka, aku hanya terus berkonsentrasi mengapa hidupku seperti ini. Merenung, berfikir, melamun, dan berkonsentrasi tetap saja aku tak menemukan. Aku berharap dengan kedatanganku di pantai mampu membawaku untuk menemukan rahasia mengapa aku diciptakan hanya untuk dipermainkan.

Di pantai yang indah itu, aku berharap mampu menjalin komunikasi dengan-Nya, tapi aku tak mendapatkan. Aku pulang hanya membawa kekecewaan, perjalanan terus Aku lanjutkan hingga malam hari aku menemukan pohon sawo yang besar dan tinggi sekali, aku beranikan untuk langsung memanjatnya dengan nada berhati-hati agar diriku tidak mati sia-sia, puncak tertinggi pun aku raih, suasana desa yang masih tampak dengan cahaya lampu yang khas yakni warna kuning seakan menampakkan kesuraman di wajah perkampunganku dan kampung tetanggaku.

Di atas sana aku meditasi kembali, ganguan pun sempat terasa. Saat ku mulai merenung, berfikir, melamun, dan berkonsentrasi ada saja yang mengganggu seperti suara-suara kelelawar yang berkelana mencuri kenikmatan sawo yang matang, sebelunya memang aura sawo matang sangat terasa. Aku pun akhirnya mengikuti jejak si kelelawar tadi. Meski malam hari tak kesulitan untuk memanen sendiri buah sawo yang matang tanpa sepengetahuan pemiliknya, ketidak kesulitanku tadi karena alam sedikit sepihak dengaku, karena cahaya bulan purnama menyinari bumi yang awalnya gelap gulita. Mengenai pemilik pohon tersebut, Aku menganggap ia pasti rela pencuri sepertiku menjalankan aksi, karena setiap pagi sawo yang matang jatuh bertaburan dengan sia-sia, si pemilik memang sedikit mengasingkan pohon ini karena ia juga punya kebun yang tertanam beberapa pohon elit dan lebih berkualitas lainnya seperti mangga, jeruk, alpukat, dan rambutan.

Aku sedikit terlena atas hawa surga yang tersangkut di pohon sawo tersebut. Aku pun segera berhenti melanjutkan meditasi dengan perut yang kenyang.

Proses meditasi terus berjalan, melakukan seperti yang telah aku lakukan selama di pantai yang sebenarnya amat jauh dari perkampunganku itu. Suasana bising saat di pantai sangat tak terasa disuasana pohon yang kunaiki. Malam semakin malam, aku sendiri tak paham sekarang pukul berapa, jam tangan yang seharusnya menempel di tangan kiriku kayak temen-temenku lainnya tak tampak. Ya karena memang aku tak memilikinya. Yang jelas, bulan yang cantik di atas sana semakin mencondongkan badanya menuju ke barat dan lebih kagetnya aku mendengarkan suara kentongan pak Hansip yang berjaga sebanyak 2 ketokan. Aku terkaget setengah mati. Ternyata, waktu tak malam lagi tapi waktu telah menunjukkan jam 2 pagi.

Aku mengelus dada dan ambil nafas dalam-dalam, mengapa aku tak terasa telah selama itu aku bertengker di atas pohon dan tak mendapatkan sedikit pun apa yang aku pikirkan. Meditasi yang aku jalani berjalan dengan sia-sia. Aku sedikit jenuh atas apa yang ku lakukan selam ini, hingga aku putuskan berkawan dengan bantal dan kasur kerasku di rumah. Tak terasa aku telah dibuat terlena oleh bantal dan kasur. Seakan mereka menghipnotisku hingga aku mampu terbangun subuh tepat pukul 10.00. subuh + dhuha menyejukkan hatiku saat kelelahan yang amat payah menggodaku. Aku sangat lega fisikku dapat beristirahat.

Namun, seakan rohaniku belum mampu lega atas rahasia dalam hidupku ini. Hingga ke-3 temanku memanggilku lewat jendela samping. Mereka memberiku angin segar atas kepenatanku selama ini dan mereka mampu memberikan kesejukan pada kondisiku yang amat terasa panas. Mereka tak panjang lebar seperti biasanya, mereka hanya memberiku secarik selebaran yang berisi kegiatan pendakian di gunung Penanggungan.

Di sini Aku dihadapkan oleh dua pilihan yaitu mengikuti acara karang taruna yakni pendakian atau istirahat atas meditasiku selama ini. Aku tak membuat pusing dua pilihan tersebut, aku putuskan untuk mengikuti pemdakian yang dapat berharap dari proses meditasi di puncak. Bila nanti aku telah tiba di puncak, maka itulah puncak yang telahku kunjungi selama tiga kali. Segala persiapan telah aku jalani seperti biasa, jiwa dan ragaku aku persiapkan sebaik mungkin agar apa yang aku inginkan dapat terwujud. Seperti pendakian-pendakian sebelumnya, rintangan demi rintangan selalu menghadang pendakian karang taruna kami. Namun, kita semua menganggap bahwa itu semua hal yang lumrah bagaikan hidup yang penuh dengan masalah-masalah. Rasa takjub dan gembira sangat terpancar pada kita semua, Panorama puncak yang surgawi mampu mengetarkan hati manusia yang memandangnya. Kita semua bangga telah manyaksikan keagungannya yang gratis ini dan semoga kita semua mampu memetik jutaan pengalaman. Nah, di sinilah aku menampakkan sujud syukurku padanya. Aku mampu menangkap aura positif yang mampu memudahkanku untuk bermeditasi. Hawah subuh yang dingin dan segera disusul oleh pancaran sinar mentari semakin menambah semangatku untuk duduk bermeditasi. Berbagai tempat telahku tempati untuk bermeditasi, merenungi apa yang menyebabkan kehidupanku ini yang penuh dengan labirin, yang tak menemukan ujung kebanggaan. Aku memasuki dunia perenunganku, memusatkan pikiran dan berharap menemukan solusi. Namun, lagi-lagi solusi yang aku inginkan tak kudapatkan disini, disamping karena hawa dingin yang aneh ini tak mampu membuatku berfikir, ketua karang tauna memutuskan untuk menyuruh semua pendakinya untuk segera turun yang disebabkan cuaca yang tak mendukung. Inilah yang terjadi dipuncak yang persis aku alami satu tahun yang lalu, yakni semakin siang malah cuaca semakin dingin. Keinginan untuk meditasi yang lama tidak aku dapatkan, sekitar 45 menit meditasi yang aku jalani tak mendapat apa yang kuharapkan yakni menemukan rahasia hidup suramku. Hidup ini memang jelas-jalas suram. Namun, aku belum jelas apa penyebab semua itu. Hingga kini aku masih mempunyai pandangan bahwa benar aku memang telah dipermainkan oleh kehidupanku sendiri. Kenapa tidak? Baik dipantai, dipohon, hingga digunung telah kujejaki untuk menemukan solusi dari masalah-masalah hidupku, tetap saja aku belum menemukan.

Aku sangat mengiginkan perubahan, telah bosan hidupku ini terus-menerus dipermainkan. Aku ingin tersenyum lebar menatap mas depan. Telah terkuras sudah pemikiran, tenaga, materi, waktu dan seakan semangat pun ikut-ikutan terkuras dalam menjalani meditasi, tapi pengorbananku itu semua sia-sia. Kata orang apa pun yang ada di dunia ini tak ada yang sia-sia semua pasti ada hikmah, pengalaman atau makanan apalah yang lainnya. Yang jelas aku meras letih atas kehidupan suramku, aku capek capeeeeek bangeeet bener-bener capeeeek harus mencari pemecahan ke mana lagi, pemecahan masalah atas kesuramanku bak menyelami harta karun yang terdampar di dasar samudra yang amat luas dan dalam. Sungguh sulit! Banyak manusia yang punya nyawa sering mengucapkan bila anak muda sering mengeluh maka masa depanya akan semakin suram atau gak bakalan jelas masa depannya. Iya! Aku sangat setuju atas pernyataan tersebut. Tapi! Aku bingung, setres, capek, letih, bimbang, lelah, lesu dan banyak lagi yang mampu mengambarkan bahasa pemikiranku aku terus berusaha agar semangat hidupku mampu aku rasakan kembali sedia kala.

*************************

Bidadariku yang di sana memberikaku semangat dengan kata-kata surganya...

Bintang itu akan menemani engkau, wahai pelipur laraku. Kau bukan hanya sebagai handuk kesedihanq, namun kau inspirasi jalan terang benderang disekian ujung. Namun kenapa kehadiran hiu yang kecil ini, kau hanya tercengang tanpa menyapa. Hiu ini ingin bermain kata tanpa harus ada irama yang mengikat untuk mengisi lautan impian. Hiu itu menangis jika semua angin diam dan hening, angin jualah merobek semua luka dan berganti lautan impian. Semoga engkau memahami...

Terkadang hiu ini ingin lari karena takut kalau kau mengambil sebagian dari sirip ini, dan menjual dalam tiang kesepiaan yang larut. Tuhan jagalah hiu itu untuk hatiku...

My love..

“Senyum terima kasih, ku persembahkan padamu....”

*

*

*

*

*

*

*

*

*


SEMANGAT...!!!!!!!!

CINTAI AKU!


Tepatnya pada Rabu, 07 Desember 2011. Mata elangku mampu menerkam coretan-coretan tanganku yang telah lama tersimpan oleh dinginnya waktu yakni sekitar ½ tahun yang lalu, inilah coretanku:

*********************

Di dalam arena kehidupanku, Aku telah mampu merasakan berbagai gejolak hidup bahwa aku adalah orang yang amat hina di mata orang-orang di sekitarku. Rasa perbedaan yang mencolok membuat semua mata hati mereka seakan tuna netra, seakan buta! Sehingga tak ada celah sedikit pun padaku untuk mencoba menjalin komunikasi sebagaimana layaknya manusia. Manusia macam apa aku ini, hidup disekian banyak manusia bernyawa dan tak ada sedikit pun yang peduli padaku, hanya segelintir! Aku sempat bertanya pada sang pembuat nyawa di atas sana, kenapa dalam hidupku telah diciptakan sebuah istana yang dinamakan ‘hati’? Kenapa aku harus memiliki hati yang sebenarnya tak ingin aku miliki? Hampir keseluruhan hidupku hanya merasakan kepedihan, dan hanya dengan hatikulah yang mampu merasakan betapa merananya kesengsaraan hidupku ini. Seandainya, Aku sanggup menghentikan rasa peka dalam hatiku ini, aku pasti bersyukur karena tak merasakan apa yang telah ku rasakan selama ini. Aku mencoba menjalani apa yang ku imajinasikan tadi. Namun, semua itu malah membuatku merasa pedih dalam menjalani hidup yang penuh dengan duri-duri tajam. Meski aku terlahir sebagai cowok, rasa sedih berkepanjangan pun tetap ku rasakan. Aku sadar bahwa banyak orang yang mengatakan kalau jadi cowok itu harus bisa tegar! Aku telah berusaha tegar dan sedikit berhasil, tapi seakan aku sebagai ‘pembohong hidup’ yakni menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu fakta terjadi! ternyata sakit! Rasa sakit ternyata tak mengenal jenis kelamin manusia, barang siapa yang merasakan betapa merananya hidup, ia pasti merasakan dengan bahasanya sendiri dan begitu juga sebaliknya.

Sungguh luar biasa memang, ketika antara hati dan seluruh anggota badan manusia seakan mampu menjalin kemitraan yang erat. Saat hati ini merana atau pun gundah gulana, wajah yang suram tampak dengan jelas, dan saat hati ini berbunga-bunga seakan wajah melihat jelas gratis bidadari di dunia surgawi sana. Ah, entahlah hidup ini, sampai saat ini aku belum mampu mengaktifkan kepekaan hatiku bahwa aku belum merasakan kenikmatan hidup, yang ada hanyalah kebingungan, hinaan, cercaan, disakiti, diasingkan, didiskriminasikan, dianggap sampah, dan hidupku seakan virus yang wajib dibasmi. Sebegitu parahkah hidupku ini? Hingga tak ada satu pun makhluk-Nya berani mendekatiku, merasakan, dan masuk dalam dunia pertualangan hidupku. Tak ada satu pun yang telah rela menganggapku sebagai layaknya manusia pada umumnya.

Mereka sangat melihatku dengan sebelah mata hati mereka, tak mampukah mereka menganggapku secara integral bukan malah parsial. Mereka memang diciptakan sebagai manusia, itu semua sama denganku juga, aku juga manusia. Sesosok manusia dimana sangat diagungkan sebagai ciptaan-Nya yang sangat sempurna. Tapi, mengapa mereka tak mampu merasakan apa yang telah aku rasakan selama ini. Mereka sungguh naïf tak menganggapku sebagai manusia pada umumnya.

Apa inikah sejatinya hidup, sejatinya hanya berisi kesengsaraan. Aku sangat muak dan bosan terhadap kesengsaraanku. Tak bisakah aku bahagia dan mampu tersenyum lebar seperti halnya manusia-manusia lainnya. Tak mampukah aku menjadi manusia yang beruntung. Aku sempat berpikiran sempit, apa aku tercipta sebagai manusia yang memiliki nasib mutlak yakni sengsara? Aku tak mampu menceritakan betapa aku merana tercipta sebagai manusia yang serba akan kekurangan pada alam semesta, alam semesta seakan ogah mendengar keluh kesahku. Wahai penguasa jagad raya! Kepada siapa aku mencari pembimbing di dunia ini, aku tak mampu berjalan dengan sendiri, AKU BUTUH MAKHLUK-MU YANG SANGGUP MEMBIMBING DAN MEMAHAMI SIAPA AKU.

Kapan Engkau memberikanku keajaiban-keajaiban sebagaimana Engkau telah memberikannya pada manusia-manusia yang beruntung lainnya? Tolong… tolong… bantu aku untuk menjalani proses kehidupan yang engkau desain ini. Aku adalah hambamu yang lemah maka anugrahkanlah aku kekuatan, aku adalah hambamu yang amat hina, maka anugrahkanlah padaku derajat yang lebih, aku hanyalah hamba-MU yang terus-menerus berdo’a agar Engkau rela untuk mencabut ketidak beruntungan hidup dalam diriku. Aku ingin tercipta sebagai manusia yang beruntung, tiap hari aku tuangkan mutiara do’aku kepada-MU agar keberuntungan bersarang pada diriku, tapi saat ini yang ku dapatkan adalah sebaliknya. Apa ada yang salah dalam diriku ini? Apa Engkau memang sengaja mempermainkan kehidupanku? dan apa memang engkau bermaksud mentraining kehidupanku agar kelak aku menjadi pemuda sang juara? Tapi entahlah biar sejarah yang berbicara, biarlah waktu yang berkuasa dan mencatat keluh kesah yang aku rasakan ini, ibarat warna-warni kehidupan yang ada di semesta ini, hidupku hanya memiliki warna kegelapan yakni hitam pekat permanen (parah bangetkan???)

Hidupku seakan bagaikan sinar yang gelap gulita menatap peluang masa depan, tak ada sinar pencahayaan sedikit pun. Aku berjalan dalam impianku berusaha menerawang dan meraba sebuah harapan yang tertuang berupa setitik sinar.

Dikegelapan itu aku mendekati titik sinar yang berada jauh di sana, tiap selangkah yang ku jalankan, setitik sinar itu sekan berlari mundur menjahuiku.

Manusia macam apa aku ini! Meski waktu terus-menerus berjalan dengan mulus, tapi hidupku tak mampu berjalan mulus sepertinya. Memang sang penguasa jagad raya, makhluk-Nya, hingga waktu pun sangat misterius seakan tak memberiku celah sedikit pun padaku untuk tersenyum, aku ingin tersenyum lepas hingga semua penat hilang berbaur dengan hembusan angin malam. Biar semua rasa ketidakberuntunganku membeku dan akhirnya meleleh dari dinginnya malam. Tapi semua itu tidak bisa! Kenapa? Apa aku banyak segunung noda kehidupan sehingga aku tak mampu memegang sebutir pasir surgamu yang nantinya mampu membawaku pada kehidupan yang damai? Apa aku buta mata hatiku melihat kenikmatan yang sebenarnya telah Engkau anugrahkan kepadaku? Apa karena manusia sering menghinaku hingga Engkau mengikuti tingkah manusia-manusia yang sebenarnya merupakan makhluk-MU? Apa karena aku bodoh menafsirkan kehidupan hingga Engkau sakit hati padaku? Ah apa yang aku pikirkan semua ini! Memang saat aku merasa gelisah, inilah yang sering aku jalani dengan pikiran kacau balau, selalu menebak-nebak atas sesuatu peristiwa yang aku alami. Itulah yang hanya aku dapat lakukan: berimajinasi, bermimpi, berfilsafat, dan menebak-nebak jalannya proses kehidupanku sebelumnya, kini dan nanti.

Aku sangat tidak paham sebenarnya, apakah yang aku lakukan selama ini membuat sang penguasa jagad raya murka atau malah Beliau berbangga diri melihat makhluk-Nya yang sangat aktif atau mengaktifkan segala apapun yang dimiliki mulai pemikiran atau kekuatan fisik, yang jelas aku masih merasakan betapa pilunya aku menjalani kehidupan aneh ini. Kehidupan yang sebenarnya menginginkan yang indah padaku. Sungguh berat sudah beban hidup yang ku alami aku hanya berharap pada-Nya dan manusia-manusia yang dalam tafsiranku selalu menghina dan mencerca kehidupanku tiada henti tanpa berani merasakan apa yang telah aku rasakan dengan langkah CINTAI AKU!

Ya itulah yang aku rasakan dulu, sekarang...


SEMANGAT itulah modalku...!!!

HTML

Powered By Blogger

SALJU INDAH